Free automatic backlinks exchange

Free Automatic Backlink for Blog and Website This is a free, fast, and simple immediate automatic backlinks for optimizing your web page on search engines result.
Welcome to Backlink Lists | Free Automatic backlinks Exchanges a free automatic backlinks generator service, free auto backlinks this website offer free auto backlinks service for blogger or web owner who want to get instant backlink for their blog or websites. We know how important is SEO to increase traffic, pagerank, and alexa rank.
Copy this html code to your website >>surgaweb
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Bid'ah Hasanah

BOLEHKAH KITA MENGERJAKAN BID'AH?

Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :

“ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,

Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam,

Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.

Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan...dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.

Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah
wafatnya Rasul saw?

Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :

“Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”

Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.

Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanahmengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).

Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?


Bid’ah Dhalalah

Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin,
bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul saw.

Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw.

Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah.

Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al- Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah.

Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al- Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ?

Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal hal baru yang berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).

Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.

Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.

Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt,

Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka
barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin


Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah

1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits inimerupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram.

Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?
Walillahittaufiq

KA'BAH DI MAKKAH

TERNYATA KA'BAH, MONUMEN TERTUA DI BUMI ??? WALLAHU A'LAM

OLEH: DIDI SUDIRJA

Menurut sebagian riwayat, Ka’bah sudah ada sebelum Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, karena sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk tawwaf dan ibadah. Bagaimana sejarahnya…?

Berbagai keajaiban dunia telah sering diceritakan dan ditulis dalam berbagai buku. Tetapi ternyata keajaiban dunia tersebut tidak ada satupun yang dapat menandingi, apalagi melebihi keajaiban Ka’bah Al-Musharaffah di kota Mekkah Al-Mukarramah, kota suci umat Islam.
Ka’bah sebagai lambang pemersatu umat Islam, setiap detiknya tidak pernah kosong dikelilingi oleh mereka yang melakukan Tawwaf, apalagi di musim ibadah haji. Tawwaf mengelilingi Ka’bah berlangsung sepanjang hari, tidak terkecuali tengah malam dan dinihari, ribuan orang bahkan jutaan umat muslim dari berbagai penjuru dunia, melakukan tawwaf, berdzikir dan sembahyang kepada Allah Aza Wazala.
Ketika umat Islam mengunjungi Masjidil Haram, maka pada saat itu pulalah mereka akan bertawaf, berkeliling Ka’bah sebanyak 7 kali sambil mengumandangkan doa-doa.Selama berkeliling tersebut, atau kalau sudah selesai mengelilinginya, kalau ada kesempatan jamaah disunatkan melakukan sembahyang, baik di daerah Multazam (suatu tempat antara lubang tempat melihat atau mencium hajar Al-Aswad) diantara Maqam Ibrahim, dan Ka’bah atau Hijir Ismail.
Menurut sebagian riwayat, Ka’bah sudah ada sebelum Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, karena sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk tawwaf dan ibadah. Ketika Adam dan Hawa terusir dari Taman Surga, mereka diturunkan ke muka bumi, diantar oleh malaikat Jibril. Peristiwa ini jatuh pada tanggal 10 Muharam.
Dalam keadaan gelap gulita Adam dan Hawa harus menerima kenyataan suratan takdir menempuh hidup baru di muka bumi. Menurut sebuah catatan, Adam diturunkan di bukit Ruhun Surandib kawasan Sailan Hindia, sedangkan Siti Hawa di Kawasan Tanah Jeddah Saudi Arabia. Mereka terpisah di tempat yang sangat jauh.
Kemudian Allah menyuruh malaikat Jibril turun ke bumi agar menemui Adam supaya melaksanakan ibadah Haji, yakni Tawwaf bersama Hawa. Maka atas petunjuk Tuhan Adam mengadakan perjalanan panjang menuju tanah Arab guna mencari Siti Hawa. Setelah mengadakan pengembaraan bertahun-tahun menyusuri padang pasir dan bukit bebatuan yang cukup terjal, akhirnya bertemulah Adam dengan Hawa. Tempat pertemuan mereka yaitu di sekitar Padang Arafah sekarang. Disebut Arafah artinya “tempat mengenal kembali”.
Keduanya kemudian mendapat perintah untuk melakukan tawwaf mengitari Hajar Aswad di tengah-tengahnya. Di tempat inilah Nabi Adam melakukan doa pertobatan bersama Siti Hawa, siang malam sambil menangis, atas segala dosanya.
Setelah Nabi Adam wafat, masjid Baitul Makmur dijadikan rumah ibadah oleh Nabi-nabi sesudahnya, salah satunya Nabi Nuh AS. Maka saat terjadi banjir bandang yang maha dahsyat di zaman Nabi Nuh. AS, masjid Baitul Makmur yang didalamnya terdapat Hajar Al Aswad, yang oleh manusia modern sekarang diyakini sebagai batuan meteorit yang jatuh ke bumi dan tidak terbakar oleh atmosfir, ikut tenggelam di telan banjir. Konon, menurut riwayat, atas izin Allah masjid Baitul Makmur lalu dipindahkan ke langit ke tujuh oleh para malaikat, dan kemudian dijadikan kiblat untuk ibadah para malaikat di ufuk cakrawala langit tertinggi di alam raya.
Ketika Nabi Muhammad SAW naik ke langit saat malam Isro Mi’rajnya tanggal 27 Rajab, Beliau sempat melakukan sembahyang di masjid Baitul Makmur ini. Nabi bertindak sebagai imam, dan para malaikat ikut menjadi makmum.
Dikisahkan pula, pada era milenium kedua SM (abad ke 20 SM) akhir zaman Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, saat menunaikan tugasnya sebagai nabi dan rasul di Jazirah Arab tepatnya kota suci Mekkah Al-Mukaramah di era Tirani imperium kerajaan Namruzd berkuasa, Ibrahim bersama putranya mendapat tugas untuk membangun kembali Ka’bah Baitullah ini. Ibrahim AS kemudian menjadikannya sebagai pusat ibadah agama tauhid sesuai dengan yang disyariatkannya saat itu.
Namun, sepeninggal Nabi Ibrahim dan Ismail, berabad-abad kemudian bangsa Arab kembali kepada kemusyrikan. Ka’bah Baitullah diisi dengan bermacam-macam berhala dan patung yang disembah-sembah sebagai Tuhan.

Pusakan Gajah Abrahah menggempur Ka’bah
Dikala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidup, lahirlah seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu tak lain dan tak bukan adalah Nabi Muhammad SAW.
Bayi itu diberi nama Muhammad, suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut perhitungan para ahli saat kelahirannya bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M.
Suatu riwayat mengatakan bahwa tatkala Adul Muthalib membawa bayi Muhammad ke Ka’bah yang penuh dengan macam-macam berhala, tiba-tiba berhala itu berjatuhan dari dinding Ka’bah.
Bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, kota Mekkah diserang oleh pasukan invantri yang berkendaraan gajah, di bawah pimpinan komando Raja Abrahah, seorang gubernur dari propinsi negara bagian kerajaan nasrani Abesinia yang memerintah di Yaman.
Mereka bermaksud menghancurkan Ka’bah. Namun sebelum maksud mereka tercapai, Allah SWT telah mengirimkan sekawanan burung Ababil yang menghancurkan pasukan tersebut sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an surat Al-Fiil 1 – 5. Mereka hancur luluh berantakan dilempari batu-batu kerikil yang diambil dari neraka Sijil, yang mengandung zat-zat kimia dan daya penghancur nuklir biologis – kimia.

Ka’bah Dibersihkan
Selama Rasulullah SAW masih berada di Mekkah dan enam belas bulan sesudah hijrah ke Madinah, umat Islam dalam sholatnya menghadap ke arah masjidil Aqsha di Yerusalem, yang juga berabad-abad menjadi kiblat agama Yahudi. Penyebabnya karena waktu itu Ka’bah telah penuh dengan patung dan berhala, bahkan disebutkan tidak kurang dari 360 buah patung bertengger di samping Ka’bah.
Sesudah itu Allah memerintahkan kepada Nabi untuk mengalihkan kembali Kiblatnya ke Masjidil Haram seperti difirmankan Allah dalam Al Qur’an Surat Al Baqqarah ayat 149 dan 150. Sejak itu maka umat Islam dalam melakukan sholatnya tidak lagi ke arah Masjidil Aqsha.
Rasulullah SAW mengerti jika Masjidil Haram harus menjadi Kiblat kembali, maka segala patung dan berhalanya harus dibersihkan. Namun, tidak mungkin berhala dan patung bisa disingkirkan dari Ka’bah tanpa merebut dan menduduki kota Mekkah yang dalam beberapa waktu saat itu dikuasai oleh kaum kafir Quraisy.
Penaklukan kota Mekkah-pun segera dilakukan dengan mengerahkan 10.000 pasukan muslim lengkap dengan senjatanya, dan akhirnya berhasil tanpa perlawanan dari pihak kafir. Tanpa turun dari untanya Nabi mendekati Ka’bah untuk melakukan tawwaf 7 kali. Tetapi ketika hendak memasuki Ka’bah ternyata pintunya di kunci oleh penjaganya yakni Utsman bin Talha.
Melihat keadaan ini dengan cepat tanggap Ali bin Abi Thalib segera merebutnya sendiri dari tangan penjaga Ka’bah, lalu hendak membuka pintunya. Tetapi Rasulullah SAW memerintahkan agar anak kunci itu dikembalikan kepada penjaga Ka’bah yang sudah tua renta itu.
Tersentuh oleh akhlak Nabi yang mulia ini maka Utsman bin Thalha tidak saja membukakan pintu Ka’bah untuk Rasulullah, tetapi juga dengan suara gemetar mengucapkan dua kalimah syahadat.
Kemudian Rasulullah masuk ke dalam Ka’bah. Semua patung dan berhala yang berjumlah 360 buah lalu disingkirkan dan dihancurleburkan. Maka bersihlah Ka’bah dari kotoran syirik, bersih seperti sediakala saat pondasinya diletakkan dan dibangun kembali oleh nenek moyang Nabi Muhammad SAW yaitu Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS.
Peristiwa itu terjadi pada tanggal 10 Ramadlan tahun ke-8 sesudah Hijriyah. Hal ini memenuhi ramalah Nabi Musa AS sebelum wafatnya, sebagaimana tersebut pula dalam Kitab Perjanjian Lama – kitab Ulangan 33 : 2; “Dan dia berkata; Tuhan datang dari Sinai dan bangkit dari Seir kepada mereka, dia memancar dari Bukit Faran, dan dia datang bersama sepuluh ribu orang beriman, dari tangan kanannya memancar hukum yang menyala bagi mereka.” (Diterjemahkan dari kitab Bibel Society).
Keterangan ini memberi penjelasan bahwa agama Allah ialah yang dibawa oleh RasyulNya yang menerima wahyu dari Sinai yaitu di atas bukit Thursina, yakni Nabi Musa AS. Lalu agama itu bangkit lagi dibawa oleh Rasul dari Yerusalem yang termasuk daerah Seir yakni Nabi Isa binti Maryam, kemudian memancar dari Bukit Faran yakni Bukit Hira di Mekkah melalui Nabi Muhammad SAW. Beliau datang membawa sepuluh ribu orang yang beriman sekaligus menaklukkan kota Mekkah, juga membawa hukum yang tegas untuk menghancurkan orang-orang musrik dan semua patung maupun berhala yang disembah orang-orang Quraisy saat itu.
Pada tahun 8 Hijriyah atau tahun 630 Masehi Nabi Muhammad SAW menetapkan bahwa segala macam patung dan berhala termasuk gambar dan tulisan huruf di dalam dan diluar Ka’bah yang tidak ada kaitannya harus disingkirkan. Sehingga mulai saat itu Ka’bah bebas dari kehadiran berbagai macam berhala-berhala dan patung juga gambar-gambar ornamen, relief, baik besar maupun kecil, baik kongkrit ataupun abstrak, termasuk simbol-simbol religius mistik yang menjurus kepada kemusyrikan.
Ka’bah dibungkus oleh tirai yang disebut Kiswah. Warnanya hitam dan dihiasi dengan tulisan kaligrafi ayat-ayat Al Qur’an. Setiap tahun selalu diganti dengan yang baru. Yang pertama kali memberi kiswah kepada Ka’bah adalah Raja Assad Tubba, dari Yaman Selatan.
Demikian, selamat bertawwaf di Ka’bah. Semoga menjadi haji mabrur!

Hajjah Hindun

LABAIK ALLAHUMMA LABAIK ... LABAIKA LAA SYARIKALAKA LABAIK.....

Al Hamdulillah akhirnya bisa selesai juga nenek saya menunaikan ibadah haji rukun islam yang ke lima walaupun umur nenek saya 75 tahun tapi masih kuat untuk berjalan towaf mengelilingi ka'bah dan sa'i dari bukit shofa ke bukit marwah jauh sebelumnya aku sebagai cucunya yg kebetulan bekerja dimakkah dapat amanah dari keluarga famili untuk mengawal beliau dan menjaganya sampai selesai, hal ini membuatku harus menghubungi petugas haji dari ketua kloternya dan akhirnya mendapat sambutan baik dari mereka untuk mengawal nenek saya.

Jama'ah haji Indonesia dari kabupaten kediri mendapatkan kloter 35 turun di jedah terus menuju kemadinah, sesampai dimadinah ada kabar nenek saya hilang dari rombongan dicari2 sama teman-temannya 2 hari baru ketemu ditanya sama teman2nya beliau pisah dari rombongan terus diam didalam masjid nabawi nggak makan cuma minum air zam-zam saja memang kasihan tp saya tak bisa berbuat apa2 karena aku be
rada di makkah, setelah 10 hari rombongan kloter 35 menuju ke mekkah disinilah aku mulai mengawal beliau sampai selesai.

SEMOGA MENJADI HAJI YANG MABRUR










Peringatan Allah

BENCANA ADALAH PERINGATAN DARI SANG PENCIPTA

KISAH PERJALANAN BENCANA
Oleh : Idris Nawawi

Keasrian alam semesta yang mulai rusak ditimpa bencana yang datang silih berganti. Terik mentari yang mulai menyengat, air hujan yang mulai meneggelamkan, desiran angin yang membawa kerusakan dan hangatnya api yang menjadikan sebuah malapetaka.
Bumi yang dahulu asri kini berubah menjiadi air bah yang menutupi ratusan desa. Ribuan rumah penduduk menjadi rata oleh ulah bumi yang terus menjalar lewat Lumpur panasnya. Pepohonan yang mulai tumbang oleh tangan manusia dan air sungai menjadi sebuah lautan yang sangat mengerikan. Angin mulai bebas berkeliaran tanpa adanya peredam dari pepohonan yang kokoh.

Dasar bumi yang mulai keropos dengan kehilangan zat minyak yang terus diambil setiap hari., pertumbuhan mulai tersendat dengan banyaknya bangunan yang membuang limbah zat kimia. Kini bumi berstatus tidak aman karena kerapuhannya. Berbagai sifat bencana yang mudah menghancurkan sifat bumi membawa dampak yang sangat menakutkan, nyawa manusia bagai tiada berharga, kehancuran tempat tinggal bagai sebuah pemandangan biasa. Jerit tangis dari orang yang ditinggalkan bagai sekilas pantun yang sesaat dihayati dan sesudahnya ditinggalkan tanpa ada rasa beban.

Sebuah kecaman dan kemurkaan dari sang pencipta alam semesta bagai sebuah pelita sesaat. Dimana orang-orang akan merasa takut suatu kegelapan dan cepat mencari lentera, namun disaat terang telah tiba, lentera akan dicampakkan semudah kita mematikan api lilin. Kini bencana mulai mewabah diberbagai daerah tanpa bisa kita cegah, kematian yang begitu tragis, kesedihan yang tanpa batas, amarah yang tiada bisa terlampiaskan dan kehilangan yang tiada bisa kembali lagi.
Sebuah tangisan yang sangat menyayat hati kerap terdengar diantara pandangan yang tertuju pada reruntuhan dan nyawa manusia yang telah menyatu. Isak tangis dibalik cucuran air mata kerap terdengar sebuah do’a “Kapan bencana akan berakhir?“. Sungguh sangat mengerikan setetes azab yang dituangkan dimuka bumi. Dan azab ini akan terus menerus datang menerpa bumi yang kian rapuh. Sebuah keadilan benar-benar telah ditunjukkan oleh Allah SWT sebagai simbol bayaran atas kelalaian umat manusia yang lebih mementingkan hidup penuh kemaksiatan.

Lalu bagaimana mengatasinya ? semua kembali kediri kita masing-masing sebagai penghayatan intropeksi diri, bisakah kita mengendalikan hidup ini kejalan yang diridhoi-NYA ?
Sesungguhnya bencana kerap terjadi karena amal manusia yang lebih banyak diarahkan kejalan kedzoliman, seperti yang sudah dituliskan dalam kitab Mizanul Qubro. Dalam kitab ini banyak menjelaskan tentang sebuah perjalanan bencana, kapan bencana diciptakan, karena apa bencana ada dan mulai kapan bencana ditetapkan.

Inilah kisah bencana selengkapnya.
Ihwal pembedaran kitab Mizanul Qubro menerangkan :
Bahwa Allah SWT menjadikan sebuah bencana hanya satu kali dalam setahun, tepatnya bulan safar di penghujung hari rabu ( Hari rabu paling akhir dibulan safar ). Dari bencana yang sudah ditetapkan, sesungguhnya semua adalah sebuah pertimbangan dari jutaan kenikmatan yang sudah diberikan pada setiap diri manusia. Dan bencana ini hanya diciptakan dari setitik air yang ada di lautan luas ( Ringan dan mudah diatasi ). Dari setitik bencana yang telah tercipta, Allah SWT menciptakan pula penangkalnya sehingga sifat bencana tidak sampai terjadi, yaitu dengan sebuah keikhlasan hati untuk bersodakoh diimalam rabu pungkasan bulan safar.

Namun melihat kenyataan yang ada, manusia lebih banyak menutup diri dalam hal bersodakoh, sehingga ketentuan dari hukum Allah SWT, lewat sebuah mizan/timbangan 70 % dari makhluk hidup yang ada lebih memetingkan menghanburkan uang kejalan yang kurang bermanfaat dari pada bersodakoh mengikhlaskan sedikit uangnya menuju hidup bermanfaat. Lewat wasilah yang diambil dari kitab, Iqodzul Himam, bencana akan terus melanda diberbagai daerah seiring pertahanan dari do’a manusia mulai memudar. Semua berawal dari malasnya mereka memahami tentang keluasan ilmu agama.

Kisah rentetan bencana yang bakal terjadi di seluruh permukaan bumi, jauh dizaman walisongo sudah diingatkan oleh sosok tokoh Waliyullah kanjeng Syeikh Siti Jenar. Beliau disaat detik terakhir menerima ajalnya, lewat eksekusi hukum pancung karena dekrit pemahaman HHHH ketauhidannya yang tidak sepantasnya diajarkan kepada masyarakat awam pada masa itu, beliau mengingatkan kepad seluruh umatnya, “ ingat !! wahai kalian semua, sepeninggalnya aku nanti, sebelum datangnya bulan kelahiran Rasulullah SAW, Allah SWT akan mengingatkanmu dengan bencana yang turun menghancurkan kalian semua “. Sepintas, kata bahasa Kanjeng Syeikh Siti Jenar kala itu seperti bernada ancaman yang ditujukankepada seluruh umat manusia, karena kematian dirinya yang berakhir sangat tragis. Namun bila dihayati secara tahkikul ilmi, “ suatu kemustahilan dari seorang derajat Waliyullah masih mempunyai perasaan dendam pada mahluk sesamanya”. Ucapan Waliyullah adalah kejujuran, bahasa Waliyullah adalah Kalam Allah SWT, yang benar adanya, jadi apa yang dimaksud dengan perkataan kanjeng Syeikh Siti Jenar yang berbau kecaman tersebut. Inilah jawaban dari kitab IQODZUL HIMAM.
“ Sesungguhnya ucapan Syeikh Siti Jenar itu benar adanya, beliau mengingatkan kepada seluruh umat manusia untuk selalu diingat bahwa sebelum datangnya bulan maulud dimana Rasulullah SAW dilahirkan, kita semua akan menapaki bulan sebelumnya yaitu bulan safar yang mana didalamnya Allah SWT menciptakan bentuk bencana untuk mengingatkan seluruh makhluk ciptaannya agar selalu mengikhlaskan sedikit harta bendanya disodakohkan terhadap yang lebih membutuhkan, sehingga bencana yang telah tercipta menjadi sebuag rohmat untuk kemanfaatan seluruh bangsa manusia”.

Nah, dari kisah Syeikh Siti Jenar pula akhirnya seluruh masyarakat tanah jawa selalu diingatkan dengan kebudayaan adat istiadat yang hampir dilakoni oleh anak-anak yaitu semua anak-anak saling berbondong melantunkan pujian panjang umur, dari satu rumah ke rumah yang lain, tepatnya dimalam rabo terakhir bulan safar, sambil meminta keikhlasan yang punya rumah untuk memberinya sekeping recehan. Namun mengapa bencana kerap terjadi dan terus membawa korban nyawa manusia. Inilah yang harus kita pikirkan secara seksama.

Dalam kitab Mizanul Qubro, Allah SWT telah berjanji “ Tiada yang selamat dari murkaku, sesungguhnya kalian semua adalah ciptaanku yang kapanpun selalu kuberi rohmat dan kuberi azab tergantung amal kalian yang diarahkan kejalan mana, kemanfaatan atau kemaksiatan “.
Bahkan dalam keluasan ilmu Allah SWT, yang dituliskan oleh tokoh Waliyullah Mindarojatil Quthbil Muthlak, Imam Ibnul Arabi, beliau menegaskan : “ Sesungguhnya Allah SWT, telah menciptakan bentuk bencana disela bulan yang telah ada ( Safar ) dari bentuk bencana yang hanya sepertiga tetes air ini mampu menghancurkan sepuluh gunung sekaligus, menenggelamkan daratan dengan hitungan detik dan mampu melenyapkan 700 juta nyawa manusia disetiap detiknya, “ lanjutnya . “ Bencana akan terus datang dimuka bumi ini karena manusia sendiri yang meminta lewat sebuah kekufuran, kedzoliman, kemaksiatan, kemunafikan dan meninggalkan apa yang sudah menjadi kewajiban/ketetapan hukum. Sehingga dengan janji-NYA, Allah SWT terus memberikan peringatan kepada seluruh makhluk hidup agar bersiap diri menuju jalan hidup yang penuh manfaat “.

Menurut Imam Sanusi “ banyaknya bencana yang sering terjadi dimuka bumi ini adalah suatu hadiah yang diberikan oleh orang-orang dzolim sehingga yang lain akan bisa lebih berfikir lewat kaca cermin dari bentuk musibah yang bisa kita lihat sebagai makna tafakur instropeksi diri untuk cepat-cepat beriman dan menebalkan keyakinan hati “.
Nah, sebagai perjalanan bencana yang harus dicermati, Habib Syeikh Imam Suyuti membeberkannya sebagai berikut, bencana selalu mengiringi dimana kedzoliman telah melampaui batas hukum syar’i wal bathin, diantara runtutan bencana yang terlahir dimuka bumi hampir semuanya dari ulah sifat manusia yang banyak salah kaprah dalam menjalankan arti hidup, diantaranya, “ Memanfaatkan fasilitas ibadah untuk tujuan politik/musyawarah yang didalamnya penuh hujatan terhadap sesama hamba Allah SWT, para ulama yang mulai rapuh dengan imingan harta benda, zinah yang kian transparan, akal yang mulai berani menyekutukan keagungan Allah SWT, manusia yang banyak putus asa dan menutup hatinya untuk terus mencari arti materi secara mudah ( pesugihan ) dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut Imam Ibnul Khoas, “ terjadinya bencana karena ulah sekelompok manusia dzolim sehingga manusia yang tidak berdosa kena imbasnya pula. Seperti yang dicontohkan dalam syarah kitab, Khomsinal Akoid, disitu dijelaskan bahwa, turunnya bencana akibat ulah sekelumit manusia yang menjual dirinya demi kebutuhan materi, dengan adanya satu orang saja berperilaku seperti ini niscaya satu wilayah ( kabupaten ) akan kena azabnya semua”.

Kembali kepemahaman bencana, yang disarikan dari kitab Mizanul Qubro. Dalam satu tahun sekali Allah SWT,menciptakan bentuk bencana, Nabiyullah Hidir AS, selaku Sulthonurrijal, yang menjaga bumi dan lautan, akan membagi bencana tersebut menjadi empat bagian yaitu pada sifat bumi, air, api dan angin.

Sifat bumi. Mencakup bermacam bentuk bencana seperti, bencana yang terlahir dari lava gunung, bebatuan, pepohonan, dan alat yang dibikin oleh manusia (transportasi).

Sifat air. Mencangkup berbagai bentuk bencana, seperti bencana yang terlahir dari bentuk air bah, ikan yang memakan manusia, karang yang bisa membelah kapal dan lain sebagainya.

Sifat api. Mencangkup satu sifat yaitu, bencana yang terlahir dari bentuk bara api.

Sifat angin. Mencangkup keseluruhan sifat alam dan dari sifat angin ini bencana lebih banyak terjadi.

Sebuah dhaukiyah dari Habib Nur Ali perjalanan bencana selama satu tahun ini apabila tidak ada yang bisa mencegahnya, niscaya segala bencana ini akan mempunyai jumlah yang setiap saat bisa meluluh lantakkan alam jagat raya. Yaitu 1.700 bencana alam setiap tahunnya. Dan bencana ini terbagi kedalaman empat sifat yang berbeda ( 400 bencana dibawa oleh sifat bumi, 300 bencana dibawa oleh sifat air, 170 bencana dibawa oleh sifat api dan 830 bencana lainnya dibawa oleh sifat angin ).

Haji Copet

AWAS !!!!! ADA HAJI COPET SETIAP MUSIM HAJI

Makkah adalah tempat rosullulloh di lahirkan dan dimakkah pula terdapat ka’bah yang jadi kiblat orang islam. dan juga tempat untuk menunaikan ibadah haji rukun islam yang kelima.

Bagi kawan-kawan yang keluarganya mau menunaikan ibadah Haji alangkah baiknya diingatkan jgn suka bawa duit yang berlebihan waspada ada copet yang telah ditugaskan ama bosnya.

Postingan ini bukanlah tentang bisnis internet akan tetapi juga berbau tentang bisnis hitam dunia nyata. Mengapa saya katakan begitu? Karena artikel ini saya ambil dari kisah nyata seorang teman saya yang lagi tabarukan di syekh Muhammad aly al-maliky makkah.

Begini ceritanya kalau nggak salah kisah ini terjadi ditahun 2007 pada tahun itu bertepatan musim haji. maka datanglah berduyun-duyun jamaah haji dari berbagai Negara termasuk dari Indonesia yang paling banyak jumlahnya ke makkah al-mukarromah . Waktu itu teman saya lagi cari makan malam dimath’am lepas itu dia duduk santai di trotoar dekat hotel para jamaah haji Indonesia. Tak tahu ada yang menegur disampingnya sebut saja namanya J dan teman saya M mari kita ikuti dialog mereka:

J . ” adek seorang mukimin apa jamaah haji?”
M. ” saya mukimin dan pelajar disini “
J. ” adek tahu orang yang berjalan itu bawa duwit banyak”
M. ” nggak tahu pak emangnya kenapa pak?"

J. ” gini dek sebenarnya saya ini pencopet /jambret saya datang haji ini nggak niat haji tapi dapat tugas dari bos saya untuk ngambilin duwit orang yang banyak uangnya, saya kesini yang ngongkosi bos saya dengan target bisa ngumpulin duwit tiga kali lipat dari ongkos haji itu.

Subhanallah mana ada pencuri mengaku pencuri tapi di tanah suci makkah ini seorang pencopet tanpa ditanya membeberkan jadi dirinya didepan teman saya, oleh karena itu peringatan buat jamaah haji jangan bawa uang banyak-banyak bawalah uang secukupnya untuk bekal haji karena ditanah suci makkah jangan dikira nggak ada orang jahat.

Selamat Idul Fitri

MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Bulan Ramadhan tak terasa telah terlewati aku tak bisa menahan air mata ini berpisah dengan bulan yang suci, bulan yang banyak berkah dan terdapat LAILAUTUL QUDAR bulan seribu bulan semoga kita bisa ditemukan bulan Romadlon lagi, 1 Syawal telah tiba orang Muslim sedunia merayakan hari raya IDUL FITRI dengan cara bersilaturrahmi saling maaf-memaafkan kesalahan atau kehilafan masing-masing di antara sesama. begitu pula saya pribadi belum sempat bersilaturrahmi kerumah teman- teman karena ya jauh sih antara saudi dan indonesia tapi dgn blog ini kita jadi dekat dan dengan blog ini pula bisa mewakili saya untuk mengucapkan: SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1SYAWAL1430.H MINAL'AIDIN WALFAIZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN jadi mulai sekarang kita dah kosong-kosong ya sob.....



Adab-adab Puasa

KUWAJIBAN,HIKMAH & ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN

Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban yang jelas yang termaktub dalam Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan ijma' kaum muslimin. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya):
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur." (Al-Baqarah:183-185)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah." (Muttafaqun 'alaih dari Ibnu 'Umar)

Sementara itu kaum muslimin bersepakat akan wajibnya puasa Ramadhan. Maka barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia telah murtad dan kafir, harus disuruh bertaubat. Kalau mau bertaubat dan mau mengakui kewajiban syari'at tadi maka dia itu muslim kembali. Jika tidak, dia harus dibunuh karena kekafirannya.

Puasa Ramadhan diwajibkan mulai pada tahun kedua hijriyyah. Ini berarti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sempat melakukannya selama sembilan kali.
Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah 'aqil baligh dan berakal sehat. Maka puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak akan diterima pahalanya jika ada yang melakukannya sampai dia masuk Islam.

Puasa juga tidak wajib bagi anak kecil sampai dia 'aqil baligh. 'Aqil balighnya ini diketahui ketika dia telah masuk usia 15 tahun atau tumbuh rambut kemaluannya atau keluar air mani (sperma) ketika bermimpi.

Ini bagi anak laki-laki, sementara bagi anak wanita ditandai dengan haidh (menstruasi). Maka jika seorang anak telah mendapati tanda-tanda ini, maka dia telah 'aqil baligh.

Akan tetapi dalam rangka sebagai latihan dan pembiasaan, sebaiknya seorang anak (yang belum baligh –pent) disuruh untuk berpuasa, jika kuat dan tidak membahayakannya.

Puasa juga tidak wajib bagi orang yang kehilangan akal, baik itu karena gila atau penyakit syaraf atau sebab lainnya. Berkenaan dengan inilah jika ada orang yang telah menginjak dewasa namun masih tetap idiot dan tidak berakal sehat, maka tidak wajib baginya berpuasa dan tidak pula menggantinya dengan membayar fidyah.

Hikmah dan Manfaat Puasa
Shaum (puasa) yang disyari'atkan dan difardhukan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Di antara hikmah puasa adalah bahwasanya puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk bertaqarrub kepada Allah dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan menggauli istri dalam rangka untuk mendapatkan ridha Rabbnya dan keberuntungan di kampung kemuliaan (yaitu kampung akhirat –pent).


Dengan puasa ini jelas bahwa seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Rabbnya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Lebih cinta kampung akhirat daripada kehidupan dunia.

Hikmah puasa yang lain adalah bahwa puasa adalah sarana untuk menghadapi derajat takwa apabila seseorang melakukannya dengan sesungguhnya (sesuai dengan syari'at). Allah Ta'ala berfirman (yang artinya):

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (Al-Baqarah:183)

Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyari'atkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan, minum dan menggauli istri.

Apabila kita membaca ayat tersebut, maka tentulah kita mengetahui apa hikmah diwajibkannya puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Allah.

Adapun takwa adalah meninggalkan keharaman-keharaman, dan kata takwa ini ketika dimutlakkan (penggunaannya) maka mengandung makna mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزَّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ))

"Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya." (HR. Al-Bukhariy no.1903)


Berdasarkan dalil ini, maka diperintahkan dengan kuat terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang diharamkan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh mencela, ghibah (menggunjing orang lain), berdusta, mengadu domba antar mereka, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan apa saja yang haram untuk didengarkan seperti lagu-lagu, musik ataupun nasyid, yang itu semuanya dapat melalaikan dari ketaatan kepada Allah, serta menjauhi segala bentuk keharaman lainnya.

Apabila seseorang mengerjakan semuanya itu dalam satu bulan penuh dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Allah maka itu akan memudahkannya kelak untuk istiqamah di bulan-bulan tersisa lainnya dalam tahun tersebut.

Akan tetapi betapa sedihnya, kebanyakan orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasanya dengan hari berbukanya, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa mereka lakukan yakni meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mengerjakan keharaman-keharaman, mereka tidak merasakan keagungan dan kehormatan puasa.

Perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, bahkan seringkali perbuatan-perbuatan tersebut merusak pahala puasa sehingga hilanglah pahalanya.

Hikmah puasa yang lainnya adalah seorang kaya akan mengetahui nilai nikmat Allah dengan kekayaannya itu di mana Allah telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti makan, minum dan menikah serta apa saja yang dibolehkan oleh Allah secara syar'i. Allah telah memudahkan baginya untuk itu. Maka dengan begitu ia akan bersyukur kepada Rabbnya atas karunia nikmat ini dan mengingat saudaranya yang miskin, yang ternyata tidak dimudahkan untuk mendapatkannya. Dengan begitu ia akan berderma kepadanya dalam bentuk shadaqah dan perbuatan yang baik lainnya.

Diantara hikmah puasa juga adalah melatih seseorang untuk menguasai dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Sehingga ia akan mampu memimpin jiwanya untuk meraih kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat serta menjauhi sifat kebinatangan.

Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak akan membahayakan tubuh. Juga manfaat lainnya dari puasa sangat banyak.

Adab-adab Berpuasa

1. Bahwasanya wajib bagi seorang muslim untuk berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Allah semata, bukan karena riya`, sum'ah, taqlid kepada manusia, mengikuti keluarganya atau penduduk negerinya bahkan wajib baginya bahwa yang membawanya berpuasa adalah keimanannya bahwasanya Allah telah mewajibkan puasa tersebut kepadanya dan mengharap pahala di sisi-Nya dalam melaksanakan puasa tersebut. Demikian juga shalat malam di bulan Ramadhan (shalat tarawih -pent), hendaklah bagi seorang muslim untuk mengerjakannya karena penuh keimanan dan mengharap pahala kepada-Nya, karena inilah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala kepada Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa yang shalat di malam harinya (shalat tarawih) karena iman dan mengharap pahala kepada-Nya maka diampuni dosanya yang telah lalu dan barangsiapa yang shalat malam bertepatan dengan datangnya lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala kepada-Nya maka diampuni dosanya yang telah lalu."
2. Termasuk adab terpenting dalam berpuasa adalah membiasakan diri kita bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sesuai dengan firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (Al-Baqarah:183)

Sesuai pula dengan sabda Nabi:
"Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya." (HR. Al-Bukhariy no.1903)

3. Menjauhi apa yang diharamkan Allah berupa kebohongan, mencela, mencaci, menipu, khianat, melihat sesuatu yang haram seperti melihat lawan jenisnya yang bukan mahramnya, mendengarkan hal yang haram seperti musik, nyanyian, mendengarkan ghibah, ucapan dusta dan sejenisnya, serta perbuatan haram lainnya yang harus dijauhi oleh orang yang sedang berpuasa dan selainnya, akan tetapi terhadap orang yang puasa lebih dikuatkan perintahnya.

4. Memperbanyak shadaqah, amal kebaikan, berbuat baik kepada orang lain, terutama di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan tatkala Jibril menjumpainya untuk bertadarrus Al-Qur`an. (Lihat HR. Al-Bukhariy no.1902)

5. Makan sahur dan mengakhirkannya, sesuai sabda Nabi: "Makan sahurlah kalian karena di dalam sahur ada barakah." (HR. Al-Bukhariy no.1923 dan Muslim no.1095)

6. Berbuka puasa dengan ruthab (kurma yang sudah matang), jika tidak didapatkan boleh dengan tamr (kurma yang belum sampai ruthab), jika itupun tidak diperoleh maka dengan air, menyegerakan berbuka tatkala telah jelas benar tenggelamnya matahari, berdasarkan sabda Nabi: "Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa." (Muttafaqun 'alaih dari Sahl bin Sa'ad As-Sa'idiy)
{Diambil dari kitab Fataawash Shiyaam karya Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin, Fataawash Shiyaam karya Asy-Syaikh Ibnu Baz dan lain-lain serta kitab Fataawal 'Aqiidah wa Arkaanil Islaam karya Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin dengan beberapa perubahan}
Wallaahu A'lam.
(Dikutip dari Bulletin Al Wala wal Bara, judul asli Kewajiban, Hikmah, & Adab-adab Puasa Ramadhan, Edisi ke-47 Tahun ke-2 / 15 Oktober 2004 M / 01 Ramadhan 1425 H , url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/47.htm)

sumber: www.salafy.or.id

Followers

Memasang banner site yang menyediakan backlink otomatis sangatlah membantu tuk meningkatkan traffic blog kita karena selain anda pengunjungpun akan klik banner site baclink otomatis yang ada diblog anda nah hal ini yang akan membuat link anda akan terus nonggol diurutan pertama. survei membuktikan bahwa link yang nonggol di urutan pertama itu yang sering diklik visitor. Anda tertarik pasang banner backlink otomatis silahkan copy paste kode di bawah ini
Copy this html code to your website >>
freebanner4uSERIBU KAWANbertaubatlahiklanseribuartissexy17freebacklinks4usatriopiningitkatamutiara4usehatwalafiahiniinfo4uiklansahabatseribusayangbloggratiss4usurgalokaSERBA SERBISENI LUKISTEMPLATE GRATISWARGA BISNISAGUS FAUZY4905GOBLOGANEKA VIDEOFECEBLOG 4UIsangrajamayasurgawebbabulfatahbacklinkgratis4uBUSANA MUSLIMseribukatamutiaramajelisrasulullahSERIBU KAWAN
Template by: Abdul Munir
Website: Sahabat Pena